Dreams · Indonesia · Islam · Pendidikan · Uncategorized

Pesantren Impian, Pesantren Wirausaha


Sudah merupakan hal yang rutin ketika saya pulang ke Bogor saya akan berdiskusi dengan Papa terkait berbagai hal, termasuk masa depan. Dari hasil diskusi tersebut, serta pengalaman dan kejadian yang saya alami, seringkali muncul inspirasi-inspirasi dan ide-ide.

Salah satu yang didiskusikan adalah soal karyawan dan salah satu toko kami yang dalam beberapa tahun ini tidak ada perkembangan, dan malah bisa dikatakan rugi besar. Hal ini berbeda sekali jika dibandingkan dengan beberapa tahun lalu di mana kemajuan toko tersebut sangat pesat di bawah tangan sepupu saya (keponakan papa) yang diasuh dari sejak kelas 3 SD oleh papa karena merupakan anak yatim. Sampai-sampai ketika toko yang itu maju, sepupu saya diminta bantu jaga di toko baru yang buka hanya setengah hari sehingga tidak menggangu kuliahnya. Dan hasilnya, toko tersebut justru kemajuannya malah lebih pesat dibandingkan toko yang sebelumnya dia pegang. Karena keasyikan berdagang (mulanya hanya beberapa kali disuruh jagain toko ketika orang tua saya sedang ada perlu), membutuhkan waktu yang lama untuk sepupu saya menyelesaikan kuliahnya di IPB. Padahal papa sudah menegurnya untuk segera menyelesaikan kuliahnya. Pernah suatu ketika saya bertanya padanya, “Yang (panggilannya ‘ayang’= kakak), kenapa ga cepat diselesaikan kuliahnya? Papa heboh terus tuh sama ayang, khawatir di-DO karena bentar lagi udah batas lulus.” Dan tiba-tiba ayang menitikkan air mata sambil tersenyum, “Iya, tenang aja, ayang juga lagi ngejar target kelulusan, ayang cuma pengen balas budi sama papa, udah besarin ayang kayak anaknya sendiri. Ayang baru mau berhenti di toko kalo papa udah punya ‘ini’ dan ‘itu’ (menyebutkan materi-materi). Dan tidak terasa air mata saya pun jadi menetes karena terharu. :’) Setelah ayang menikah, papa pun memutuskan untuk pensiun dini (setelah melalui proses yang panjang, baru 3 tahun dikabulkan semenjak pengajuan) dari pekerjannya sebagai PNS agar bisa fokus bisnis, karena selama ini mama saya yang pegang kendali bisnis, sedangkan papa fokusnya hanya bisa setengahnya. Memang dengan 4 anak, ditambah beberapa anak yang diasuh papa, mengandalkan gaji sebagai PNS tidaklah cukup. Sehingga setelah krisis moneter, dengan modal tidak seberapa, papa pun memutuskan membuka usaha dengan dijalankan oleh mama.

Kembali ke cerita karyawan dan toko tersebut, papa bercerita entah kenapa sulit mencari karyawan yang punya integritas tinggi yang punya prisip bersama-sama untuk maju dan saling menguntungkan. Tentunya karyawan papa ada juga yang baik dan punya integritas yang membawa kemajuan ke toko kami. Sampai baru-baru ini papa memberikan bonus umroh gratis pada salah satu karyawan yang telah memajukan usaha papa untuk memotivasi karyawan lain. Bagi papa, dan bagi pengusaha-pengusaha yang lain saya rasa, karyawan adalah aset yang paling berharga di suatu usaha, tanpa mereka tentu terbatas yang bisa kita lakukan. Dan tentunya ketika usaha tersebut berhasil dimajukan oleh karyawan yang berprestasi, kita tentu harus memikirkan bagaimana membuat karyawan tersebut betah dan merasa dihargai sehingga dapat terus meningkatkan produktivitas. Salah satunya dengan memberikan penghargaan berupa bonus.

Tiba-tiba saja dari hasil diskusi tersebut saya jadi teringat kampung halaman keluarga papa saya di Padang Pariaman. Kebetulan keluarga inti papa saya semuanya merantau, ada yang di Pekanbaru, Bogor, Bekasi, Jakarta, dll. Sedangkan almarhum kakek dan nenek saya adalah petani. Ketika mereka meninggal, kebun dan tanah di kampung sudah tidak ada lagi yang mengurus. Padahal kebun dan tanah yang lumayan luas tersebut jika dimanfaatkan menurut saya bisa memberikan keuntungan untuk hajat hidup orang banyak.

Saya juga jadi teringat ketika beberapa waktu lalu magang di Balai Besar POM Bandung, ada dua orang bapak yang membawa minyak wijen dan minyak jagung dari Kuningan, mereka datang untuk bertanya bagaimana mendaftarkan produk-produk tersebut di BPOM. Mereka becerita bahwa minyak-minyak ini diolah dari hasil perkebunan pesantren. Jadi mereka adalah pengurus pesantren yang berbasis agrobisnis. Melalui agrobisnis yang dijalankan para santri tersebut, biaya operasional pesantren dapat ditutupi tanpa perlu mengharapkan sumbangan donatur. Cerita bapak-bapak tersebut membuat saya terkagum-kagum pada mereka. Waah, andaikan semua pesantren mandiri seperti ini.. selain tidak perlu mengharapkan dana dari donatur, mereka juga bisa mengajarkan kepada santrinya untuk mandiri setelah lulus dari pesantren.

Dari situ saya jadi punya impian memiliki pesantren berbasis wirausaha, selain bisa menghasilkan santri-santri yang beriman dan bertaqwa, kita juga dapat menghasilkan santri-santri yang terbiasa mandiri dari segi ekonomi. Pun kalau seandainya ada santri yang kurang jiwa wirausaha-nya, bisa disalurkan ke dunia kerja, bisa di bisnis saya atau bisnis sahabat saya, dengan jaminan integritas hasil didikan pesantren yang disiplin dan ketat terhadap akhlak santri-santrinya (di sini lah saya sedang berusaha mempelajari program-program yang bisa mendidik integritas para santri di pesantren impian saya tersebut). Memang mencari karyawan dengan integritas tinggi di zaman sekarang ini cukup sulit, karena saya lihat pendidikan di Indonesia terlalu berfokus kepada akademik, dibandingkan pendidikan akhlak dan integritas. Karena latar belakang yang berbeda-beda dari pelamar kerja, terkadang jadi sulit menentukan integritasnya. Tapi saya pikir jika saya bisa menghasilkan tenaga kerja yang memang terdidik untuk terampil dan berintegritas tinggi dari kecil (paling tidak pesantren dimulai sejak kelas 1 SMP), sepertinya bisa mengatasi problem dalam mencari karyawan berintegritas.

Saya pun terfikir untuk memanfaatkan tanah di kampung yang terbengkalai untuk dimanfaatkan mendirikan pesantren, (yang terpikir sekarang, mungkin nanti bisa berubah, saya masih mengkaji) menanam kopi (komoditi Indonesia yang di dalam dan luar negeri sangat populer), beternak ayam, domba dan sapi. Selain agrobisnis, saya ingin membekali santri-santri dengan keahlian IT, bahasa, dan menjahit. Kepada yang berprestasi, bisa juga dikirim untuk mengikut pelatihan-pelatihan, misalnya pelatihan agrobisnis di Jepang. Hal ini senada dengan cita-cita papa saya untuk membangun kampung halaman. Pembangunan tersebut adalah pembangunan yang kontinyu, bukan hanya sekedar mengirimkan zakat atau sedekah berupa uang tunai ke kampung yang dapat habis seketika tanpa mendidik msyarakat untuk mau berubah mentalnya menjadi lebih maju. Membangkitkan cita dan harapan masyarakat dari sebelumnya hanya bagaimana dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari, menjadi bagaimana keluarganya bisa berkembang, maju dan terdidik.

Jujur ini masih sebatas ide dan rencana kasar, selagi mencoba menggali ilmu dan merintis usaha, ke depannya beberapa ide bisa saja berubah. Saya pikir mendirikan pesantren ini paling feasible dalam waktu 10 tahun lagi. Saya masih harus melakukan studi kelayakan, mengkaji berbagai hal, dan menggalang dana, tentunya juga belajar pada pesantren berbasis wirausaha yang sudah maju.

Bagaimana pun juga, saya setuju dengan Pak Chairul Tanjung, salah satu inspirator saya.
“Ulama bertanggung jawab atas ketidakmampuan umat Islam yang mayoritas dalam jumlah, tetapi minoritas dalam penguasaan sektor ekonomi”.

Saya sendiri benci dengan kenyataan saat ini di pemberitaan-pemberitaan bahwa umat Islam identik dengan kemiskinan dan kebodohan. Padahal Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam menjadi umat yang kaya, karena kewajiban-kewajiban dalam umat Islam menuntut umat Islam untuk kaya, contohnya pergi haji, zakat, sadaqah. Sebagaimana do’a yang sering dipanjatkan Rasulullah SAW, “Allahumma inni a’udzu bika minal kufri wal faqri”. “Yaa Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekafiran dan kefakiran.”

Rasulullah SAW tidak pernah menyuruh umatnya menjadi miskin, yang ada sebaliknya, menyuruh umatnya menjadi kaya. Saya jujur merasa kesal karena ada sebagian umat Islam yang masih tertipu dan terbodohi oleh makna kesederhanaan yang disalahartikan, yaitu sederhana=miskin. Tidak hanya itu, mereka juga masih sibuk dengan hal-hal furu’iyah, sedangkan sudah tertinggal jauh dalam hal ekonomi. Sibuk mengharapkan donasi, tanpa terpikir untuk mandiri. Padahal perlu dibedakan antara pilihan hidup untuk sederhana (tidak boros dan berlebih-lebihan) dengan sederhana berupa kemiskinan. Yup, bukan rahasia lagi aqidah umat Islam ada yang tergadaikan karena sebungkus mie instan. Kefakiran dekat dengan kekafiran. Dan bukan rahasia lagi kalo kefakiran disebabkan oleh kebodohan. Oleh karena itu, salah satu cara mendasar untuk mengentaskan kemiskinan di negeri ini adalah dengan menghilangkan kebodohan. Sangat penting untuk meningkatkan mutu pendidikan yang tidak hanya akademis, tapi juga akhlak.

Semoga impian ini bisa terkabul. Aamiin :”)

Advertisements

2 thoughts on “Pesantren Impian, Pesantren Wirausaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s